TOEFL PREPARATION COURSE

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 28 Agustus 2012

Menuju Indonesian Corruption Free







Gagasan Kebangkitan, Juni 2012
oleh
Evi Mulyani
PK KAMMI UPI, Mahasiswa P. Ekonomi UPI 2009




Sesungguhnya kehidupan kita tengah berada dalam kegelapan, dimana kegelapan itu menyelimuti seluruh sendi-sendi kehidupan kita. Dari segi pemerintahan, disana banyak duduk tiran yang korup. –M. Taufik Ali Ashor-

Sinisme terhadap wajah Indonesia kian hari kian menghegemoni. Perilaku busuk pejabat publik menyumbat keagungan citra bangsa. Berkelebat memperkaya diri secara tidak wajar dan tidak legal. Kebebalan dianggap superioritas dalam mereguk momentum saat diberi kepercayaan dengan menyalahgunakan kekuasaan publik. Sendi-sendi kebersamaan bangsa dirusak, struktur pemerintahan diacak, perjalanan pemerintahan dihambat. Ia benalu sosial yang semakin hari semakin mewabah dan mencederai geliat ekonomi yang sehat. Ia adalah koruptor bak roman pesakitan yang tak henti merilis beragam model pengembangan korupsi.

Korupsi bukanlah kejahatan yang baru, melainkan kejahatan lama yang sangat pelik dan sistemik. Dalam konteks perjalanan bangsa Indonesia, persoalan korupsi telah mengakar dan membudaya. Kerap kali kita mengernyitkan hati atas peristiwa lumrah kalangan mayoritas pejabat publik akan kewajaran melegitimasi kejadian korupsi. Bersukat dengan retorika anti korupsi tidak cukup pakem untuk mengurungkan kelincahan praktik tercela ini. Peraturan perundang-undangan yang dirilis pemerintah hanya menjadi meaning less dan bebal bagi koruptor.

Roman Korupsi

Berbicara perkembangan korupsi berarti menggantang pemberantasan korupsi. Hingga kini, pemberantasan korupsi belum menunjukkan titik terang. Kasus-kasus korupsi masih menggeliat dari dulu sampai sekarang. 

Contohnya saja kasus megakorupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Kasus tersebut menjalar bak gurita baik ke aparat hukum maupun elit politik. 
Kasus lain yang berselancar dengan nyaman dan berkelebat dengan aman yaitu kasus korupsi Bailout Bank Century. Suap cek pelawat pemilihan deputi senior BI ikut memenuhi daftar kasus korupsi di negeri ini. Kasus Nazarudin, rekening gendut polri, mafia pajak Gayus Tambunan, Angelina sondach, hambalang, Freeport, tambang gas cepu, lapindo, dan kasus lainnya yang masih lezat untuk diperbincangkan Indonesia hari ini turut berdesakkan untuk dienyahkan.

Transparency International (TI) kembali meluncurkan Corruption Perception Index (CPI). CPI adalah sebuah indeks gabungan. Indeks ini dihasilkan dari penggabungan hasil 17 survei yang dilakukan lembaga-lembaga internasional yang terpercaya. CPI mengukur persepsi korupsi yang dilakukan politisi dan pejabat publik. Tahun ini CPI mengukur tingkat korupsi dari 183 negara dengan rentang indeks antara 0 sampai dengan 10, dimana 0 berarti Negara tersebut dipersepsikan sangat korup, sementara 10 berarti Negara yang bersangkutan dipersepsikan sangat bersih. Pada tahun ini, skor Indonesia dalam CPI adalah 3.0. Indonesia dan Negara-negara menempati posisi 100 dari 183 negara yang diukur. Dikawasan ASEAN, skor Indonesia berada dibawah Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand.1 (


sumber: www.http://ti.or.id


)



Etape yang dihasilkan CPI tidak ada perubahan yang signifikan. Skor tersebut masih berada dibawah nilai tengah (0.5), belum pantas jika Indonesia dipersepsikan sebagai Negara yang sangat bersih.

Terkesiap bak mendengar obituarium atas realita dari kalkulasi Corruption Perception Index (CPI) yang tersemat pada Indonesia kini. Mata rantai benalu tersebut telah menggurita di Negara kita. akankah kita terdiam sampai sebuah bandul berbunyi tanda peringatan karena cekikan benalu sosial itu sudah hampir mematikan? Mari berkontemplasi dan meruwat harapan dengan kembali menyusun taktis demi mengenyahkan hasrat dan perilaku korupsi.

Kembali ke Sekolah

Kompleksitas bencana yang dipanen dari benih korupsi yang semakin telak menyeruak kepermukaan bukan mustahil untuk dienyahkan. Cara yang paling efektif menurut Berry (2010) adalah melalui media pendidikan.

Keterlibatan pendidikan nasional secara formal dalam mengeliminasi korupsi memiliki kedudukan strategi antisipatif. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dalam Bab I ketentuan Umum Pasal 1 ayat 2 tertuang bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan zaman.

Berangkat dari makna Undang-Undang Republik Indonesia diatas, terdapat superioritas makna dalam hal relevansi dan harmonisasi antara pendidikan berbasis nilai dan sesuai dengan kebutuhan para peserta didik.

Pembelajaran Berbasis Value

Roman proses pembelajaran hari ini hanya menggugu kemampuan intelegency. Berkeluk pada kemampuan kognitif. Ragam manusia akan semakin haus ilmu yang tidak dapat terlampiaskan sebagaimana kodrat manusia. Mengais ilmu adalah andil dari tingkat kemampuan intelegency dengan little processor didalam otak kecil.

Tak heran jika pembelajaran terutama pembelajaran dalam hidup sering digerek pada situasi yang tak hanya membutuhkan formula intelegency dalam menyelesaikannya akan tetapi kreativitas sangat diandalkan. Pembelajaran akan elok jika menggugu dan meniru value. Memetik nilai yang berserakan dalam proses pembelajaran yang kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sebagai makhluk individualis, sosialis, dan bermartabat. Bukan hanya melulu berselancar pada pembelajaran tekstual melainkan kontekstual.

Memaut Asa Pengabdian Tulus Pendidik

Chico Mendez berseru, “menciptakan seribu orang tanpa pendidikan, yang tercipta amuk massa. Sedangkan menciptakan seratus orang dengan pendidikan, yang muncul adalah sebuah perubahan terstruktur”.

Seorang penggiat lingkungan, Chico Mendez telah melukiskan ribuan inspirasi bagi pendidik. Menebar semangat dengan memasukkan formula pendidikan sebagai hal vital dalam menginisiasi perubahan.

Mengakar kekesatriaan pendidik dengan menyulap kepribadian pembelajar agar menjadi para pembelajar yang memiliki karakter. Meruwat asa pada pendidik mengantarkan pembelajar pada pemahaman bukan lagi sosok yang bersukat mengejar score besar (score oriented) yang akan tertuang dalam ijazah dengan menghalalkan segala cara atau bersukat mengejar gelar dengan percuma tanpa makna.

Memantik kekesatriaan pendidik dengan mengangkat cara belajar yang menimba dari pengalaman agung sang juara, dari khazanah emas. Memaut asa para pembelajar berprestasi sekaligus berandil di masyarakat. Sehingga ilmu yang tereguk di sekolah atau perguruan tinggi dapat menghegemoni dalam pembentukkan sikap hidup positif keseharian pembelajar.

Menebar Value bagi Pembelajar Indonesia

Mari kita menilik dan memahami alasan utama penyebab merebaknya korupsi, adalah mental aparat yang bobrok. Terdapat banyak karakter bobrok yang menghinggapi para koruptor. Tak jarang kita menyaksikan para koruptor adalah orang yang sudah berlebih dalam hal materi. Namun karena ketamakannya, mereka masih berhasrat untuk memperkaya diri.2 (


sumber: www.http://ti.or.id


)



Namun, melaksanakan rangkaian kata dalam bentuk gerakan terkadang teramat sulit.
Dibutuhkan semangat serigala untuk mendobrak dan merobohkan pilar-pilar korupsi. Korupsi selalu bersisa karena pembombardiran terhadap benalu sosial tersebut tidak pernah tepat sasaran. Tamsil “gigi yang sakit, tapi yang diobati telapak tangan”.

Akar permasalahan yang terpatri adalah pada karakter bobrok sebagian manusia Indonesia. Indonesia harus berkelebat dan bersukat sejak dini untuk mengeliminasi kebobrokan karakter dengan model pembelajaran pada pembelajar dengan berbasis value. Menyampaikan pesan agung dan memetik value sehingga dapat mewujudkan the true learning.

Mengakomodasi Transformasi Value Berbasis Multiple Intellegences

Dalam menancapkan value dari berbagai topik bahasan pembelajaran, tidak serta merta menekankan pada kemampuan logika dan bahasa yang disampaikan dalam bentuk ceramah yang acap kali membuat bosan para pembelajar. Efektifitas dalam mentransfer materi pelajaran yang sarat makna (value) dapat disampaikan dalam proses belajar yang sesuai dengan kondisi siswa (tanggap terhadap kebutuhan zaman).

Seorang pendidik yang kreatif akan mentransformasikan value pada pembelajar (kejujuran, kearifan, kerendahan hati, hikmah kontekstual) dengan berbagai cara; menggunakan music untuk mengembangkan musical intelligence, belajar berdiskusi untuk mengembangkan interpersonal intelegence, aktivitas seni untuk mengembangkan visual-soatial intelegence, role play untuk mengembangkan bodly-kinesthetic intelegence, perjalanan ke lapangan (field trips) untuk mengembangkan nature intelegence, menggunakan multimedia dan refleksi diri untuk mengembangkan intra-personal intelegence.

Jika American dream adalah kebebasan (freedom), maka Indonesian dream adalah bebas korupsi (Corruption Free).




Sabtu, 16 Juni 2012

Mawar


Cimahi, 2010


Mawar
Berduri dan di Tepi Jurang
Itulah ambisiku, obsesiku yang setiap saat selalu menyulut api kehendakku.
Mudah memang bila hanya sekedar diucapkan. Tapi, realisasi dari kata yang luar biasa yaitu menjadi muslimah sholehah sulitnya bagaikan menaiki puncak gunung yang tingginya tiada terukur.
Tarik menarik antara ruh dan hawa nafsu, tarik menarik antara nafsu baik dan nafsu buruk seringkali bertempur dalam jiwa ini, pada akhirnya terkadang diri ini hanya menjadi pribadi yang selalu menyesali diri.
Namun tidak hanya itu, kesedihanpun selalu mendera, meski air mata tak selalu terlihat didepan kaca ketika ku memandang wajah yang penuh dosa.
Aku tahu bahwasannya kesedihan itu tak selamanya menjadikan terwujudnya obsesiku. Tapi aku yakin, kesedihan tidak berdiri sendiri, melainkan karena adanya motivasi, ya motivasi ingin menjadi muslimah sholehah yang sulit untuk ku gapai.
Kadang atsar (pengaruh) indahnya dunia memberatkan langkah untuk menuju itu. Namun, bayangan kenikmatan syurga yang selalu meringankan semua beban kehidupan duniawi dalam diriku.
Aku ingin menjadi muslimah yang lembut, meski tak dapat selembut Siti Khadijah.
Aku ingin menjadi muslimah yang sabar, meski tak dapat sesabar Siti Hajar
Aku ingin menjadi muslimah cerdas, meski tak dapat secerdas Aisyah
Aku ingin menjadi muslimah yang berani, berani mengatakan yang salah adalah salah dan yang benar adalah benar.
Selalu saya ingat bahwasannya tiap detik yang kita lalui di lorong waktu kehidupan ini adalah jenak-jenak yang harus dipertanggungjawabkan didepan Allah. Pertanggungjawaban didepan Allah nanti sudahkah aku menjadi muslimah sholehah yang agung cinta-Nya pada Allah dan menjadikan Rasulullah sebagai teladan? Sudahkah aku menjadikan setiap sisi ruang dan waktu merupakan implementasi totalitas ibadah kepada Allah?
Do’akan aku hai ikhwahfillah agar aku senantiasa bisa merubah diri menjadi baik dan senantiasa menyesali perbuatan baik agar menjadi lebih baik.



Sekali lagi, mampukah aku menjadi muslimah sholehah?
Tapi sekali lagi aku ingin menjadi muslimah sholehah
Muslimah sholehah yang juga seperti mawar berduri ditepi jurang.
Berduri agar terjaga dan terlindungi.
Aku ingin tumbuh di tepi jurang, agar tak sembarangan tangan berani menyentuhku. Agar jika dipetik, tak sembarang orang bisa memetikku.

Malam dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT
Terimakasih atas hidayah-Mu
Alhamdulillah
Terimakasih pula untuk sahabat-sahabatku yang selalu ada untuk mengingatkanku :)

Sabtu, 28 April 2012

Mengelaborasi Martabat Cerita Rakyat untuk Mengangkat Kearifan Lokal Melalui Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia


Gebyar Bahasa dan Sastra Indonesia, April 2012
oleh
Evi Mulyani
Mahasiswi Pendidikan Ekonomi 2009

Mata dunia perlahan menyaksikan pengikisan nilai-nilai budaya Indonesia. Kekerasan globalisasi menyumbat keagungan citra bangsa akibat adanya ekspektasi gusar tertinggal zaman. Indonesia dikhawatirkan oleh gejolak identitas kebangsaan. Tak ada ungkapan bangsa yang besar bagi Indonesia kini. Kita rentan tersulut kelincahan budaya asing yang semakin mewabah dan mencederai eksistensi budaya lokal yang sarat makna.



Kearifan lokal kini menjadi kearifan yang terisolasi. Kearifan lokal terliminasi dari primadona peradaban yang kian hari kian mendeklinasi. Penyeragaman dipaksa menjadi sebuah keniscayaan, lantas keberbedaan dianggap sebuah kekolotan. Kerap kali kita mengernyitkan hati atas peristiwa lumrah akan kemunafikan dan kenaifan untuk menampilkan kesejatian diri. Kearifan lokal yang sejatinya sebagai representasi keunikan ragam budaya di negeri besar ini, sungguh telah kian tergerus arus zaman. Akankah menjadi cerita usang? Mari kita berkontemplasi dan meruwat harapan dengan kembali memertahankan kearifan lokal sembari menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal.


Memutar Ingatan ke Memori Indonesiaku dulu


Ragam keunikan bangsa Indonesia dari sisi suku, budaya, etnis, dan yang lainnya merepresentasikan karakteristik masing-masing. Harmonis bergerak beriringan mengemukakan kekhasannya yang sarat menyiarkan kearifan yang pada masa-masa lalu terpatri menjadi salah satu sumber nilai dan inspirasi agung dalam merajut dan mengonstruksi kehidupan.
Sejarah mendemontrasikan, masing-masing etnis dan suku memiliki kearifan lokal. Tilik saja beberapa suku dan etnis di Indonesia, Jawa begitu kentalnya dengan kelembutan, suku Batak nyaris kental dengan keterbukaan, suku Madura memiliki harga diri yang tinggi, etnis Cina dengan keuletannya yang mengemuka. Lebih dari itu, masing-masing mengelaborasi keakraban dan keramahan dengan lingkungan alam yang mengitari mereka.
Kearifan lokal lahir dari rahim tanpa serta merta. Ia lahir dari rahim perenungan yang dalam. Mahapanjang proses perjalanan kearifan lokal sehingga akhirnya terbukti mengemuka, hal itu sarat kebaikan bagi roda kehidupan. Keterujiannya dalam sisi ini membuat kearifan lokal menjelma menjadi budaya yang mentradisi, melekat hebat pada kehidupan masyarakat. Artinya, sampai batas tertentu ada nilai-nilai perenial yang berakar kuat pada setiap aspek lokalitas budaya ini. Semua, terlepas dari perbedaan intensitasnya, mengeram visi terciptanya kehidupan bermartabat, sejahtera, dan damai. Dalam bingkai kearifan lokal ini, masyarakat bereksistensi, dan berkoeksistensi satu dengan yang lain.
Dewasa ini nilai-nilai luhur kearifan lokal mulai kehilangan kemurnian substansi. Kini yang tampil tak lebih dari sekadar topeng. Faktanya, hari ini budaya masyarakat Indonesia hampir keseluruhan mengalami reduksi dan deklinasi, menampilkan diri bak pajangan yang sarat formalitas. Kedatangannya tanpa kesejatian diri tak lebih untuk keuntungan diri.
Segudang upaya membangun kesejatian diri bangsa Indonesia termasuk penghargaan pada nilai budaya dan bahasa, nilai-nilai solidariatas sosial, kekeluargaan, dan rasa cinta tanah air dirasakan membias. Tentu banyak faktor yang membuat kearifan lokal secara umum kehilangan keberingasannya. Tak hanya menyalahkan masyarakat dalam memaknai secara kreatif dan kontekstual kearifan lokal mereka, faktor yang lainnya adalah pragmatisme dan keserakahan yang biasanya dimulai dari sebagian elit masyarakat. Memanfaatkan kearifan lokal secara artifisial sekaligus mencederai dan menyayat-nyayat nilai-nilai agung didalamnya.
Kompleksitas bencana budaya semakin telak menyeruak kepermukaan. Masyarakat terjerembab dalam kondisi dilematis, tak mampu memandang, apalagi menyelesaikan.
Mendongkrak kearifan lokal bukan mimpi yang mustahil untuk direalisasikan. Masyarakat Indonesia sudah saatnya menilik kembali kesejatian diri melalui pemaknaan dan pembangunan nilai-nilai luhur budaya mereka.
Mengelaborasi Martabat Cerita Rakyat
Pengukuhan eksistensi kearifan lokal diperlukan pemertahanan budaya lokal. Budaya lokal kental dengan budaya yang dimiliki suatu wilayah yang mencerminkan keadaan sosial diwilayahnya. Ketika bangsa lain rendah akan warisan budaya lokal, dengan geliat mentaktisi untuk melestarikannya demi sebuah identitas, maka sungguh ironis jika Indonesia yang kaya warisan budaya lokal lantas mengabaikan pelestariannya. Seperti sebuah tamsil “menggapai burung terbang sementara punai ditangan dilepaskan”. Salah satu budaya lokal yang menjadi primadona dan sangat relevan untuk mendongkrak eksistensi kearifan lokal adalah cerita rakyat.
Terlalu naïf apabila menganggap cerita rakyat hanya digunakan untuk memahami dunia dan mengekspresikan gagasan, ide-ide, dan nilai-nilai, melainkan ada hal paripurna yaitu memahamkan dunia kepada orang lain, menyimpan, mewariskan gagasan, dan mentransformasi nilai-nilai dari generasi ke generasi berikutnya.
Penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam cerita rakyat diyakini akan melekat sampai dewasa. Ia menyampaikan amanat dan nilai-nilai, termasuk nilai-nilai pendidikan kepada pembaca. Pesan moral dalam cerita rakyat sejatinya akan ditemukan oleh pembaca.
Pesan moral dalam cerita rakyat merupakan hal terpenting sebagai bahan kontemplasi dalam merajut nilai-nilai dan melakoni kehidupan yang baik. Misalnya, cerita rakyat “Malin Kundang” di daerah Sumatera Barat berkisah tentang seorang anak yang mendurhakai ibunya sehingga dikutuk menjadi batu. Kisah Malin Kundang menyemburatkan dengan kuat bagaimana seorang anak harus hormat kepada orang tua. Berbagai macam tokoh dan watak tersajikan dalam cerita rakyat dapat dijadikan pelajaran yang luhur. Lebih dari itu, setiap cerita rakyat merepresentasikan budaya lokal suatu wilayah sehingga sangat layak jika cerita rakyat dapat mengangkat kearifan lokal. Tak penting dengan keaslian cerita rakyat. Yang terpenting adalah martabat dan nilai-nilai luhur yang mengkristal yang dapat menulari jiwa akan kecemerlangan telaga kearifan lokal.
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menginisiasi pembangunan manusia Indonesia dan sungguh relevan dengan perkembangan zaman. Pada hakikatnya Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tak hanya untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, bernalar, dan kemampuan wawasan.
Melejitkan kearifan lokal yang komprehensif dengan cerita rakyat ke puncak bukan oase di gurun pasir. Meruwat mimpi mengenalkan dan memertahankannya adalah melalui dunia akademis. Salah satu upaya tersebut melalui Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam panggung otonomi daerah, selayaknya kearifan lokal diperkenalkan kepada para penikmat pendidikan. Bahkan, dalam penyusunan kurikulum ditingkat pendidikan sekolah dasar dan menengah sudah selayaknya mengintegrasikan budaya lokal ke dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.
Bahasa dan Sastra Indonesia berbicara mengenai budi, imajinasi, dan emosi, juga sebagai karya kreatif yang lahir sebagai konsumsi intelektual dan emosional. Sastra dapat berinfiltrasi terhadap daya emosi, imajinasi, kreatifitas, dan intelektual. Cerita rakyat yang merupakan jelmaan prosa sudah sepantasnya mulai dijadikan sebagai bahan pembelajaran sastra di sekolah.
Taktis mengonstruksi kearifan lokal kepermukaan dengan cerita rakyat melalui pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia berarti mengupayakan penanaman nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal, seperti nilai religious, nilai moral, tak terkecuali pula nilai-nilai kebangsaan. Muaranya, penanaman nilai-nilai budaya lokal untuk mengangkat kearifan lokal dengan cerita rakyat diprediksi akan mengimbangi pengaruh budaya asing yang semakin menggurita dimasyarakat kita.
Proses deklinasi yang selama ini nampak jelas kita saksikan sudahlah cukup sampai disini. Mengangkat kearifan lokal dengan mengelaborasi cerita rakyat melalui Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia bukanlah tamsil oase di gurun pasir. Melainkan sebuah langkah kecil tapi pasti yang ditunggu bangsa besar ini, bangsa Indonesia untuk menemukan kembali kesejatian diri. 


Minggu, 15 April 2012

Detik-Detik Bangkitnya Ekonomi Syari'ah


Masih ingatkah Anda tentang perkara raksasa yang menggegerkan dunia yang terjadi pada tanggal 23 September 2008 lalu? Saat itulah perusahaaan raksasa dunia ambruk dan bangkrut. Fenomena kebangkrutan perusahaan besar di Amerika Serikat tersebut membuktikan bahwa mereka hanya mengejar keuntungan dengan menghalalkan segala cara.

Sampai detik ini, krisis ekonomi kapitalis telah terjadi berulangkali. Dari Rusia sampai ke Venezuela, dalam kurun waktu 50 tahun terakhir ini menyebabkan penderitaan ekonomi, pendapatan menurun, kelaparan, kerusuhan, dan meningkatnya kriminalitas.

Sangat disadari bahwasannya system ekonomi kapitalis hanya lebih mengutamakan pemilik modal, memperlakukannya sebagai raja atau ratu, sebagai motor penggerak, inisiator, leader dan otomatis akan menjadi penerima berkah. Di sisi lain, pekerja dan profesional sebagai pelengkap penderita saja. Parahnya, kapitalisme sangat mengabaikan aspek moral dan ketuhanan. Dasar filosofi rasionalisme sekuler inilah yang menyebabkan ketidakseimbangan yang berdampak pada kerusakan alam, kemiskinan, kerusuhan sosial, hingga menimbulkan berbagai krisis berkelanjutan.

Pondasi Kapitalisme adalah berdasarkan ekonomi moneter bukan berdasarkan ekonomi ril, sehingga rente ekonomi yang diperoleh bukan berdasarkan hasil investasi produktif, namun dari investasi spekulatif. Masyaallah.

Sudah tak perlu kita persoalkan perkara-perkara system ekonomi kapitalis yang rakus dan ketidakjujuran yang mewarnai perekonomian dunia. Sebagaimana tagline kapitalisme adalah kepuasan individu yang maksimum, mengejar keuntungan semata, dan memisahkan kehidupan ekonomi dari nilai-nilai agama sehingga banyak terjadi moral hazard. Krisis ini membuktikan bahwa sistem perekonomian kapitalis telah diujung kehancuran. Sistem yang memperbolehkan pelaku bisnis melakukan kegiatan- kegiatan spekulatif tinggal puing-puing yang menyisakan kesengsaraan. Praktek spekulatif dalam transaksi di pasar modal dan pasar valas ini membuat sektor moneter menggelembung atau dikenal dengan bubble economi, tetapi tidak didukung sektor riil yang kuat.

Permasalahan ini harus diatasi dari inti dan akar permasalahannya serta harus dianalisis guna menetapkan solusinya dengan menerapkan al-Qur’an dan al-Hadis sebagai dasar ilmu Islam.

Ekonomi syariah menuntun prilaku berekonomi agar memperoleh kesejahteraan. Perilaku ini terkait dengan landasan syariat sebagai rujukan moral dalam fitrahnya, yang terbentuk dengan dasar nilai Ilahiyah.

Perbedaan mendasar ekonomi syariah dengan ekonomi konvensional (kapitalis dan sosialis) terletak pada sumber utama prilaku dan infrastruktur ekonomi syariah yaitu al Qur’an dan as Sunnah yang bukan merupakan karya pakar ekonomi Islam, namun pengetahuan langsung dari sang Maha Pencipta, Allah Subhana wa ta’Allah. Di sisi lain, sumber pengetahuan ekonomi konvensional adalah intelegensi dan institusi akal manusia melalui studi empiris. Perbedaan kedua, terletak pada motif prilaku itu sendiri. Ekonomi syariah dibangun dan dikembangkan di atas nilai altruism,sedangkan ekonomi konvensional berdasarkan nilai egoisme.

Prinsip yang luar biasa dan bukan hanya memberi batasan-batasan moral saja, namun mengandung konsekuensi bangunan ekonomi yang signifikan berbeda dengan sistem ekonomi konvensional dari ekonomi syariah semakin menegaskan bahwa system ekonomi syariahlah yang dapat mengeluarkan perekonomian dunia yang semakin terpuruk. Mulai dari prinsip hidup hemat dan tidak bermewah-mewahan, implementasi zakat, penghapusan/ pelarangan riba, gharar dan maisir, menjadi sistem bagi hasil (profit-loss sharing) dengan instrumen mudharabah dan musharakah sebagai pengganti sistem kredit dan bunganya yang membersihkan ekonomi dari segala prilaku buruk yang merusak sistem, seperti menipu dan judi, dan usaha-usaha yang halal.

Tunggu apa lagi kita saat ini? Aplikasikan system ekonomi yang paripurna yaitu ekonomi syariah..
JAYA EKONOMI SYARI’AH!!!
Salam Hangat ^_^ Evi Mulyani

Pemerintah atau Pasar?


Diawali pengamatan Galbraith sebagai penganut tradisi Marx dan Schumpeter bahwa perkembangan dan pendewasaan konsep mekanisme pasar yang menurut pengamatannya memiliki ekonomi makro yang tidak stabil, ekonomi mikro yang tidak efisien dan tiadk mampu mengurangi kesenjangan social. Atas pandangan tersebut Galbraith mengusulkan pentingnya intervensi pemerintah dalam kkegiatan ekonomi untuk menjaga kestabilan dan efisiensi ekonomi serta peningkatan pemerataan.


Berbeda dengan Friedman, mempunyai pandangan yang bertolak belakang dengan pandangan Galbraith bahwa campur yangan pemerintah diluar urusan public (seperti pertahanan, dan ketertiban umum) akan menyebabkan tidak efisiennya penggunaan sumber daya, terhambatnya kemajuan ekonomi, terhambatnya mobilitas social dan akhirnya akan mengurangi kemerdekaan berpolitik.

Pandangan pro pasar yang diwakili oleh Friedman sebetulnya dilandasi oleh idealisasi model kompetisi pasar yang sempurna yang cenderung menuju keseimbangan yang penuh dari ekonomi secara keseluruhan (ekonomi makro) dan penggunaan sumberdaya yang efisien baik perorangan maupun perusahaan (ekonomi mikro). Pandangan ini didukung oleh fakta kemajuan ekonomi pasar negara-negara industri Barat dan Jepang.

Salah satu penyebab intervensi pemerintah adalah faktor kegagalan ekonomi pasar. Ada dua kriteria yang lazim digunakan untuk menilai system pasar dan non pasar, yaitu efisiensi dan pemerataan. Jika system pasar dapat melaksanakan sesuatu dengan biaya yang lebih murah dan system nonpasar atau jika system pasar dapat menghasilkan sesuatu yang lebih baik dibanding system pasar pada harga yang sama, maka system pasar tersebut dianggap tidak efisien.

Dari kedua kriteria diatas, isu pemerataan biasanya lebih dominan dibanding dengan isu efisiensi dalam menjelaskan kegagalan pasar sehingga isu inti biasanya didominasi pertimbangan dagi intervensi pemerintah yang ekstentif terhadap system ekonomi pasar.